Kampar, Mediaperskeadilan.com –
Pergantian tahun dalam kalender Hijriah bukanlah sekadar perpindahan angka dari satu tahun ke tahun berikutnya. Ia adalah momentum spiritual yang mengingatkan umat Islam kepada peristiwa agung hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Makkah menuju Madinah.
Hijrah bukan hanya perjalanan fisik menempuh jarak ratusan kilometer, tetapi terlebih dahulu merupakan perjalanan hati; sebuah tekad yang kuat untuk meninggalkan keburukan menuju kebaikan, meninggalkan kegelapan menuju cahaya iman.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kita mendengar pepatah, “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan.” Pepatah ini mengandung hikmah yang sangat dalam.
Tidak ada perubahan yang akan terjadi tanpa adanya kemauan.
Seseorang mungkin memiliki kesempatan, fasilitas, bahkan dukungan dari banyak pihak, tetapi jika di dalam hatinya tidak ada keinginan untuk berubah, maka perubahan itu tidak akan pernah terwujud.
Prinsip ini sangat sejalan dengan sabda Rasulullah SAW:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
“Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya, dan setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang diniatkannya.”
(HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis yang sangat masyhur ini bahkan diletakkan oleh banyak ulama pada bagian awal kitab-kitab hadis mereka sebagai penegasan bahwa segala amal dan perubahan hidup bermula dari niat yang tertanam di dalam hati.
Hakikat Hijrah adalah Hijrah Hati
Hijrah yang paling penting bukanlah berpindah tempat, melainkan berpindah keadaan hati. Rasulullah SAW bersabda:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah.”
(HR. al-Bukhari).
Hadis di atas memberikan pemahaman bahwa hijrah sejati adalah meninggalkan maksiat menuju ketaatan, meninggalkan sifat sombong menuju rendah hati, meninggalkan kemalasan menuju semangat beribadah, dan meninggalkan kebiasaan buruk menuju akhlak yang mulia.
Hijrah dimulai dari sebuah keputusan batin. Ketika hati telah bulat ingin berubah, maka seluruh anggota badan akan mengikuti arah yang telah ditetapkan oleh hati tersebut.
Sebaliknya, jika hati masih enggan dan belum memiliki kemauan, maka berbagai nasihat dan fasilitas tidak akan mampu mengubah seseorang.
Kemauan hari merupakan awal suatu perubahan.
Pepatah “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan” sesungguhnya menggambarkan kekuatan niat.
Allah SWT memberikan kemampuan kepada manusia untuk memilih jalan hidupnya. Namun, langkah pertama menuju perubahan selalu dimulai dengan kemauan.
Permisalan sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Ada seseorang yang rumahnya hanya berjarak beberapa meter dari masjid. Setiap hari azan berkumandang begitu jelas terdengar di telinganya. Jalan menuju masjid sangat mudah dan tidak ada halangan berarti. Akan tetapi, jika di dalam hatinya tidak ada kemauan untuk datang memenuhi panggilan Allah, maka ia tetap tidak akan melangkahkan kaki ke masjid.
Sebaliknya, ada orang yang rumahnya jauh dari masjid. Ia harus menempuh perjalanan, menghadapi hujan atau panas, bahkan meninggalkan kesibukan pekerjaannya. Namun karena hatinya memiliki kerinduan dan kemauan yang kuat untuk beribadah, ia tetap datang ke masjid dengan penuh semangat. Jarak yang jauh tidak menjadi penghalang bagi hati yang telah memiliki niat.
Hal yang sama dapat dilihat pada seseorang yang ingin berhenti merokok. Banyak orang mengetahui bahwa merokok tidak baik bagi kesehatan, menghabiskan harta, dan bahkan dapat mengganggu orang lain.
Akan tetapi, pengetahuan saja tidak cukup. Selama belum tumbuh kemauan yang kuat dari dalam hati untuk berhenti, maka kebiasaan itu akan sulit ditinggalkan.
Namun ketika seseorang telah benar-benar berniat dan bertekad, dengan izin Allah ia akan mampu meninggalkan kebiasaan tersebut sedikit demi sedikit hingga benar-benar terbebas darinya.
Kekuatan terbesar dalam perubahan bukan terletak pada faktor luar, tetapi pada kekuatan niat yang lahir dari hati yang sadar dan ikhlas.
Perspektif Islam, niat bukan hanya pembuka amal, tetapi juga penentu nilai amal itu sendiri.
Amal yang besar dapat menjadi kecil jika niatnya keliru, dan amal yang tampak sederhana dapat bernilai besar di sisi Allah apabila dilakukan dengan niat yang ikhlas.
Momentum Tahun Baru 1448 Hijriah, hendaknya dijadikan sebagai waktu untuk memperbarui niat dan melakukan muhasabah.
Setiap orang perlu bertanya kepada dirinya sendiri: sudahkah ada kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik? Sudahkah ada tekad untuk memperbaiki ibadah, memperbaiki hubungan dengan keluarga, menghentikan kebiasaan buruk, dan memperbanyak amal saleh?
Hijrah bukanlah peristiwa yang selesai dalam satu hari, tetapi sebuah proses yang terus berlangsung sepanjang hidup. Selama seseorang memiliki kemauan untuk terus memperbaiki diri, maka ia sedang berada di jalan hijrah.
Peristiwa hijrah Rasulullah SAW mengajarkan bahwa perubahan besar selalu dimulai dari niat yang benar dan kemauan hati yang kuat.
Pepatah “Di mana ada kemauan, di situ ada jalan” memiliki kesesuaian makna dengan hadis “Innamal a’malu bin niyyat”, karena keduanya menegaskan bahwa setiap langkah dan perubahan berawal dari tekad yang tumbuh di dalam hati.
Hijrah yang paling utama adalah hijrah qalbu, yaitu hijrah niat dan keinginan untuk menjadi lebih baik.
Orang yang dekat dengan masjid belum tentu rajin ke masjid jika tidak memiliki kemauan, sementara orang yang jauh akan tetap datang karena didorong oleh niat yang kuat.
Demikian pula orang yang ingin meninggalkan kebiasaan buruk seperti merokok, berkata kasar, atau lalai dalam ibadah, semua itu hanya dapat dilakukan apabila diawali dengan kemauan yang sungguh-sungguh.
Akhirnya, datangnya Tahun Baru Hijriah hendaknya menjadi panggilan bagi setiap muslim untuk melakukan hijrah batin, mengubah hati yang lalai menjadi hati yang mengingat Allah, mengubah niat yang lemah menjadi tekad yang kuat, dan mengubah kebiasaan buruk menjadi amal saleh. Sebab, perjalanan menuju kehidupan yang lebih baik selalu dimulai dari satu langkah kecil di dalam hati, niat yang tulus untuk berubah karena Allah SWT.
(Sumber: Eman Gani/Dosen UIN SUSKA Riau).
Editor : Irwansyah.P
