Jakarta,Mediaperskeadilan.com—Momen malam sakral 9 dan 10 Suro merupakan salah satu waktu yang paling krusial dan sarat makna. Baik dari sudut pandang budaya Jawa (Kejawen) maupun spiritual Islam (Hijriah), momentum ini memiliki kedalaman refleksi tersendiri. Terlebih, bulan Suro bertepatan dengan bulan suci Muharram. Di balik sakralnya dinamika waktu ini, ada esensi refleksi diri yang mendalam tentang bagaimana kita memandang kehidupan dan sesama manusia.
Dinamika kehidupan akan terus berputar seperti roda yang tak pernah berhenti. Manusia hidup dalam rotasi yang misterius; kadang berada di bawah, kadang di atas. Dalam falsafah Jawa, fenomena ini dikenal sebagai Cakra Manggilingan poros roda kehidupan yang menegaskan bahwa nasib manusia itu dinamis.
Apa yang kita genggam hari ini bisa jadi esok terlepas. Sebaliknya, siapa yang hari ini terpuruk, esok hari bisa saja berbalik menjadi pemimpin. Namun sayangnya, dalam perjalanan roda kehidupan ini, kita kerap menyaksikan sebuah fenomena sosial yang memprihatinkan: hilangnya rasa saling menghargai antarsesama.
Mengapa kebanyakan manusia saat ini cenderung memandang rendah orang lain? Jangankan kepada orang asing, bahkan terhadap kawan sejawat hingga saudara kandung sendiri pun, sikap meremehkan atau memandang “sebelah mata” kerap kali terjadi.
Filosofi Dua Mata dan Peringatan tentang Dajal
Padahal, sudah sangat jelas bahwa Allah SWT menciptakan manusia dalam bentuk yang paling sempurna. Dalam QS. At-Tin ayat 4, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”
Manusia dibekali dua mata yang berfungsi dengan baik. Lalu, mengapa masih banyak dari kita yang sengaja menggunakan “satu mata” saja untuk menilai orang lain?
Secara eskatologi Islam, Dajal dicirikan memiliki keterbatasan fisik dan spiritual, salah satunya adalah buta sebelah mata. Rasulullah SAW mengingatkan dalam sebuah hadis riwayat Bukhari:
“Ketahuilah bahwa Dajal itu buta sebelah matanya, sedangkan Tuhanmu tidaklah buta sebelah.”
Sifat Dajal adalah melihat segala sesuatu secara cacat, timpang, dan penuh tipu daya. Ketika seorang manusia memilih untuk selalu memandang sesamanya dengan sebelah mata hanya melihat kekurangan, status sosial, atau masa lalu seseorang maka perilakunya tersebut sejatinya sedang meniru sifat-sifat Dajal. Kita menutup mata dari kebenaran dan kebaikan utuh yang ada pada diri orang lain.
Manusia dikaruniai dua mata oleh Sang Pencipta agar mampu melihat dunia secara objektif, menyeluruh, dan seimbang. Kita diminta untuk melihat tidak hanya aspek lahiriah, melainkan juga batiniyah.
Fakta Sosial: Ketika Manusia Memilih “Buta Sebelah”
Namun, fakta di lapangan berbicara lain. Banyak manusia modern yang secara sadar memilih untuk “buta sebelah”. Mereka hanya menggunakan satu mata untuk menilai casing atau kulit luar seseorang saja. Perilaku nyacad atau gemar mencari-cari celah buruk orang lain ini sangat dilarang dalam agama. Allah SWT secara tegas mengingatkan dalam QS. Al-Hujurat ayat 11:
“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, karena boleh jadi mereka (yang diolok-olok) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olok)…”
Ketika melihat kawan atau saudara sedang berada di bawah, dengan mudahnya pandangan sebelah mata itu dilemparkan. Mereka lupa bahwa roda kehidupan itu selalu berputar.
Berdasarkan ilmu titen dalam Primbon, kesombongan terhadap sesama justru sering kali menjadi magnet yang mempercepat runtuhnya keberuntungan seseorang (keblinger). Siapa yang hari ini berada di bawah, bisa jadi esok hari akan diangkat derajatnya oleh Tuhan ke tempat yang paling tinggi.
Kesimpulan: Kembali ke Khittah Manusia
Melalui momentum refleksi Suro dan Muharram ini, mari kita jadikan waktu untuk bercermin dan memperbaiki diri. Jangan pernah lagi memandang sesama dengan sebelah mata. Berhentilah menjadi hakim atas hidup orang lain hanya berdasarkan pandangan yang sempit.
Rasulullah SAW bersabda:
“Cukuplah seseorang dikatakan buruk jika dia menghina saudaranya sesama Muslim.” (HR. Muslim).
Mari kembali ke khittah kita sebagai manusia seutuhnya. Gunakan kedua mata kita untuk melihat dunia dengan rasa empati, keadilan, dan kebijaksanaan. Ingatlah, di atas langit masih ada langit, dan berputarnya roda kehidupan tidak pernah ada yang tahu pasti.
Sumber : Casroni
Editor : Irwansyah .P
