Salo,Mediaperskeadilan.com—Siang itu, sehabis menunaikan salat Jumat di Masjid Muawanah Air Manis, Desa Salo, Kecamatan Salo, ada rasa bahagia yang sulit untuk saya jelaskan dengan kata-kata.Jumat ,11 September 2026.
Bukan karena sesuatu yang mewah. Bukan pula karena mendapatkan sesuatu yang besar.
Hanya sebuah pertemuan sederhana, sebuah jamuan makan siang, dan obrolan bersama orang-orang baik. Namun, justru dari kesederhanaan itulah saya menemukan sesuatu yang sangat berharga: ketenangan jiwa.
Saya semakin menyadari bahwa terkadang kebahagiaan tidak perlu dicari jauh-jauh. Ia bisa hadir melalui orang-orang yang Allah Azza wa Jalla hadirkan di sekitar kita.
Siang itu, kami dijamu oleh Koordinator Penyuluh Agama KUA Kecamatan Salo, Umi Gusmawati. Rumah beliau tidak jauh dari Masjid Muawanah, sebuah tempat yang juga menyimpan cerita dan nostalgia tersendiri bagi perjalanan hidup saya.
Di atas meja makan persegi panjang yang sederhana, tersaji berbagai hidangan khas Kampar. Ada asam pedas ikan baung, goreng ikan pantau, goreng ayam, dan berbagai masakan lainnya.
Sederhana memang.
Tetapi suasananya begitu istimewa.
Sebab di meja makan itu, saya berkesempatan duduk bersama tiga sosok yang saya pandang sebagai orang-orang baik dan memiliki keteladanan dalam pengabdian: Ustadz Anwar Efendi, Kepala KUA Kecamatan Kuok; H. Zulfahmi, Kepala KUA Kecamatan Salo; dan Ustadz Nurjalal, Penyuluh Agama Islam KUA Kecamatan Salo.
Tiga orang, tiga karakter, tiga perjalanan pengabdian.
Namun siang itu kami duduk dalam satu suasana: bersilaturahmi, berbagi cerita, dan saling menguatkan.
Saya kemudian berpikir, ternyata ada pertemuan-pertemuan yang tidak membutuhkan acara besar untuk menjadi berarti.
Cukup duduk bersama.
Cukup berbicara dari hati ke hati.
Cukup saling mengingatkan dalam kebaikan.
Dan tanpa kita sadari, hati yang sebelumnya mungkin lelah menjadi lebih ringan.
Obrolan kami siang itu bukan sekadar percakapan untuk menghabiskan waktu makan. Hampir setiap cerita membawa hikmah. Ada nasihat tentang lingkungan kerja, bagaimana menjaga amanah, bagaimana menghadapi berbagai karakter manusia, bagaimana tetap ikhlas ketika pengabdian tidak selalu mendapatkan apresiasi.
Ada pula cerita tentang rumah tangga, tentang bagaimana seseorang harus belajar bersabar, menahan emosi, menghargai pasangan, dan tetap menjaga keluarga sebagai tempat pulang.
Ada juga pembicaraan tentang kehidupan bermasyarakat dan bernegara. Bahwa menjadi bagian dari masyarakat bukan hanya tentang mendapatkan hak, tetapi juga tentang memberikan manfaat. Menjadi aparatur bukan hanya tentang jabatan, tetapi tentang amanah. Menjadi penyuluh agama bukan sekadar berbicara tentang agama, tetapi bagaimana menghadirkan nilai-nilai agama dalam kehidupan nyata.
Dari meja makan sederhana itu, saya mendapatkan pelajaran yang begitu dalam.
Ternyata jiwa manusia membutuhkan lingkungan yang baik.
Ketika kita berada di tengah orang-orang yang gemar mengeluh, hati pun mudah ikut lelah.
Ketika kita berada di tengah orang-orang yang suka merendahkan, perlahan kita kehilangan kepercayaan diri.
Tetapi ketika kita berada di tengah orang-orang yang senang mengingatkan kepada Allah, berbicara dengan bijak, menjaga lisan, dan melihat kehidupan dengan penuh rasa syukur, ada energi positif yang perlahan masuk ke dalam diri.
Hati menjadi teduh.
Pikiran menjadi jernih.
Dan langkah terasa lebih ringan.
Allah Azza wa Jalla mengingatkan kita:
«”Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.”
(QS. Ar-Ra’d: 28)»
Ayat itu kembali terasa begitu dekat siang itu.
Ketenangan ternyata bukan selalu tentang terbebas dari masalah.
Ketenangan adalah ketika kita memiliki hati yang mampu menerima kenyataan, pikiran yang mampu melihat hikmah, dan lingkungan yang mampu mengingatkan kita kepada kebaikan.
Saya pun semakin percaya bahwa dalam perjalanan hidup, kita tidak hanya membutuhkan orang-orang yang bisa tertawa bersama kita.
Kita membutuhkan orang-orang yang mampu mengingatkan ketika kita salah, menguatkan ketika kita lemah, dan mendoakan ketika kita sedang tidak berdaya.
Orang-orang seperti itulah yang harus kita jaga.
Sebab tidak semua pertemanan membawa ketenangan.
Tidak semua pertemuan meninggalkan hikmah.
Dan tidak semua orang yang datang dalam hidup kita benar-benar menginginkan kita menjadi lebih baik.
Maka ketika Allah mempertemukan kita dengan orang-orang saleh, orang-orang yang tulus, orang-orang yang senang berbagi ilmu dan nasihat, jangan pernah menganggapnya sebagai kebetulan.
Bisa jadi itu adalah salah satu cara Allah menyelamatkan hati kita.
Siang itu saya pulang dengan membawa lebih dari sekadar kenyang.
Saya pulang membawa semangat.
Semangat untuk terus bekerja dengan ikhlas.
Semangat untuk terus menjadi manusia yang bermanfaat.
Semangat untuk memperbaiki diri.
Semangat untuk menjaga keluarga.
Semangat untuk tetap melangkah meskipun perjalanan hidup terkadang tidak mudah.
Sebab hidup memang tidak selalu memberikan apa yang kita inginkan. Ada hari-hari ketika kita merasa kuat, tetapi ada pula hari ketika kita merasa begitu lelah.
Namun jangan berhenti.
Jangan menyerah.
Dan jangan biarkan satu persoalan membuat kita lupa bahwa masih banyak nikmat Allah yang patut disyukuri.
Carilah lingkungan yang membuat kita semakin dekat kepada Allah.
Dekatilah orang-orang yang membuat kita semakin bersemangat berbuat baik.
Duduklah bersama mereka yang setelah kita tinggalkan, hati kita menjadi lebih tenang dan langkah kita menjadi lebih kuat.
Karena pada akhirnya, kita tidak hanya membutuhkan tempat untuk makan dan beristirahat. Kita juga membutuhkan tempat di mana jiwa kita merasa diterima, dinasihati, dan dikuatkan.
Dan mungkin, siang itu, Allah sedang mengajarkan kepada saya satu hal sederhana:
Bahwa ketenangan jiwa terkadang hadir melalui pertemuan sederhana bersama orang-orang baik.
Maka, selama Allah masih memberikan kesempatan untuk hidup, mari terus melangkah.
Perbaiki yang bisa diperbaiki.
Ikhlaskan yang tidak bisa dipaksakan.
Maafkan yang perlu dimaafkan.
Syukuri yang telah Allah berikan.
Dan jangan pernah lelah menjadi orang baik.
Karena boleh jadi, kebaikan kecil yang kita lakukan hari ini menjadi alasan Allah menghadirkan ketenangan di dalam hati kita esok hari.
Tetaplah berjalan. Tetaplah berbuat baik. Tetaplah percaya kepada Allah.
Sebab selama hati masih menggantungkan harapan kepada-Nya, tidak ada perjuangan yang benar-benar sia-sia.
(Sumber : Adi Jondri Putra)
Editor : Redaksi
